CEDERA CORD SPINAL (Cedera tulang belakang )

ETIOLOGI

Kecelakaan jalan raya adalah penyebab terbesar, hal

mana cukup kuat untuk merusak kord spinal serta kauda

ekuina. Dibidang olah-raga, tersering karena menyelam

pada air yang sangat dangkal.

KLASIFIKASI

Sebelum membicarakan macam-macam cedera tulang belakang

serta kord spinal secara khusus, akan dibicarakan dulu

secara garis besar. Harus diingat bahwa cedera tulang

belakang mempunyai komponen tulang dan komponen saraf

hingga pengelolaan akan ditentukan oleh faktor-faktor

dari kedua aspek tersebut.

A. CEDERA TULANG

a. Stabil

Cedera yang stabil adalah bila fragmen tulang tidak

mempunyai kemampuan untuk bergeser lebih jauh selain

yang terjadi pada saat cedera. Komponen arkus neural

intak, serta ligamen yang menghubungkan ruas tulang

belakang, terutama ligamen longitudinal posterior,

tidak robek. Cedera stabil diakibatkan oleh tenaga

fleksi, ekstensi dan kompresi yang sederhana terhadap

kolumna tulang belakang dan tersering tampak pada

daerah toraks bawah serta lumbar. Fraktura baji badan

ruas tulang belakang yang diakibatkan oleh fleksi akut

pada tulang belakang adalah contoh yang umum dari

fraktura stabil.

b. Tak stabil

Fraktura mempunyai kemampuan untuk bergerak lebih

jauh. Kelainan ini disebabkan oleh adanya elemen rotari

terhadap cedera fleksi atau ekstensi yang cukup untuk

merobek ligamen longitudinal posterior serta merusak

keutuhan arkus neural, baik akibat fraktura pada

pedikel dan lamina, maupun oleh dislokasi sendi

apofiseal.

B. CEDERA NEUROLOGIS

a. Tanpa defisit neurologis

Pemeriksaan klinis tak menunjukkan adanya kelainan

neurologis.

b. Dengan defisit neurologis

Kerusakan neurologis yang terjadi saat kecelakaan dapat

lengkap dengan hilangnya fungsi dibawah tingkat cedera

atau tidak lengkap. Defisit neurologis paling mungkin

terjadi setelah cedera pada daerah punggung karena

kanal spinal tersempit didaerah ini. Adanya spondilosis

servikal memperberat kerusakan neurologis bahkan karena

cedera minor sekalipun pada orang tua. Ancaman terhadap

leher juga bertambah karena artritis rematoid.

Harus selalu diingat bahwa tulang belakang toraks

adalah daerah utama terjadinya fraktura patologis

karena proses metastatik.

TEMUAN KLINIS

Cedera tulang belakang harus selalu diduga pada kasus

dimana setelah cedera pasien mengeluh nyeri serta

terbatasnya pergerakan leher dan pinggang. Deformitas

klinis mungkin tidak jelas dan kerusakan neurologis

mungkin tidak tampak pada pasien yang juga mengalami

cedera kepala atau cedera berganda. Tidak lengkap

pemeriksaan pada suatu cedera bila fungsi anggota gerak

belum dinilai untuk menyingkirkan kerusakan akibat

cedera tulang belakang.

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS

Karena alasan diatas, perlu dilakukan pemeriksaan

radiografi tulang belakang servikal pada semua pasien

cedera kepala sedang dan berat. Radiograf yang diambil

di UGD kualitasnya tidak selalu baik dan bila tetap

diduga adanya cedera tulang belakang, radiograf

selanjutnya diambil lagi termasuk tampilan oblik bila

perlu, serta (pada daerah servikal) dengan leher pada

fleksi serta ekstensi bila diindikasikan. Tampilan

melalui mulut terbuka perlu untuk memperlihatkan proses

odontoid pada bidang antero-posterior.

PENGELOLAAN

Sasaran terapi adalah mempertahankan fungsi neurologis

yang masih ada, memaksimalkan pemulihan neurologis,

tindakan atas cedera lain yang menyertai, dan mencegah

serta mengobati komplikasi serta sekuele kerusakan

neural. Reduksi atas subluksasi untuk mendekompres kord

spinal dan tindakan immobilisasi tulang belakang untuk

melindungi kord spinal adalah merupakan dasar dari

tindakan.

Operasi lebih awal diindikasikan untuk dekompresi

neural, fiksasi internal, atau debridemen luka terbuka.

Pasien dengan kelainan patologis kompresif dan defisit

neurologis tidak lengkap atau dengan defisit neurologis

progresif adalah kandidat operasi dekompresi gawat

darurat. Fiksasi internal elektif dilakukan pada pasien

dengan ketidakstabilan tulang belakang, cedera ligamen

tanpa fraktura, deformitas tulang belakang progresif,

cedera yang tak dapat direduksi, fraktur yang nonunion.

Mediator sekunder dari cedera adalah perubahan

metabolik serta patofisiologik yang berperan terhadap

progresi dari respons cedera kord spinal setelah cedera

primer atau mekanikal. Cedera jaringan menyebabkan

perubahan biokimia, seluler, serta perubahan jaringan

yang akan menimbulkan iskemia jaringan. Iskemia dan

infarksi kord spinal pasca cedera adalah mekanisme

kunci. Iskemia pasca cedera mempunyai efek lokal dan

sistemik. Secara sistemik terjadi pengurangan curah

jantung, hipotensi dan vasodilatasi simpatetik. Secara

lokal, autoregulasi dapat hilang serta mikrosirkulasi

pada dan sekitar segmen kord spinal yang cedera bisa

berkurang. Efek vaskuler pasca cedera harus ditindak

untuk mengoptimalkan pemulihan. Ekspansi volume dan

vaso-presor digunakan untuk memperbaiki keadaan normo-

tensif. Aliran darah kord spinal dapat diperbaiki

dengan cara ekspansi volume, steroid, nimodipin, atau

dopamin. Dosis tinggi metilprednisolon (bolus 30mg/kg

diikuti 5.4mg/kg/jam untuk 23 jam berikutnya) yang bila

diberikan dalam 8 jam sejak cedera akan memperbaiki

pemulihan neurologis. Gangliosida mungkin juga akan

memperbaiki pemulihan setelah cedera kord spinal.

Penilaian keadaan neurologis setiap jam termasuk

pengamatan fungsi sensori, motori dan refleks penting

untuk melacak defisit yang progresif atau asenden.

Mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat, fungsi

ventilasi dan melacak keadaan dekompensasi merupakan

hal yang vital.

1. Cedera stabil tanpa defisit neurologis

Pada kelompok ini diantaranya angulasi atau baji dari

badan ruas tulang belakang, fraktura proses transversus

dan spinosus, dll. Tindakannya simtomatik, seperti

istirahat baring hingga nyeri berkurang, kemudian

mobilisasi bertahap dengan fisioterapi untuk memulihkan

kekuatan otot.

2. Fraktura tak stabil tanpa defisit neurologis

Bila terjadi pergeseran, fraktura memerlukan reduksi,

dan posisi yang sudah lebih baik harus dipertahankan.

Metoda reduksi antaranya:

a. Traksi

Fraktura servikal paling tak stabil dapat direduksi

dengan memuaskan dengan melakukan traksi pada tulang

belakang servikal memakai sepit (tong) metal (seperti

tong Gardner-Well atau Crutchfield) yang dipasang pada

tengkorak. Beban sekitar 20 kg (tergantung tingkat ruas

tulang belakang, mulai sekitar 2.5 kg pada fraktura C1)

digunakan dalam mengusahakan reduksi.

b. Manipulasi

Dislokasi serta locking dari faset sendi apofiseal

servikal mungkin menghambat reduksi fraktura bila hanya

semata dengan traksi. Manipulasi hati-hati leher dalam

anestesi umum dapat membebaskan faset.

c. Reduksi terbuka

Kadang-kadang terhadap faset pada daerah servikal dan

toraks diperlukan operasi untuk mengembalikan alignment

normalnya.

Metoda immobilisasi setelahnya adalah:

a. Ranjang khusus, rangka, atau selubung plester dengan

pasien dapat dirawat untuk waktu yang lama dengan

mempertahankan posisi yang telah direduksi bahkan saat

membalik untuk memandikan atau merawat kulit.

b. Traksi tengkorak. Hanya diperlukan beban sedang

untuk mempertahankan cedera leher yang sudah direduksi.

c. Plester paris dan splin eksternal lain. Pasien

dengan cedera servikal nyatanya dapat dimobilisasi

dengan leher disangga dengan plester paris dalam posisi

memadai atau dengan splin metal yang dirancang agar

kepala tetap immobil disaat pergerakan tubuh.

d. Operasi. Fusi secara bedah melintas garis fraktur

dapat dilakukan. Pada tulang belakang servikal operasi

dilakukan baik dari depan maupun belakang. Pada daerah

toraks tulang belakang difiksasi dengan pelat metal dan

tandur tulang yang menyatukan lamina dengan proses

spinosus berdekatan.

3. Cedera stabil dengan defisit neurologis

Bila fraktura stabil, kerusakan neurologis diakibatkan

oleh:

a. Pergeseran yang cukup besar yang terjadi saat cedera

menyebabkan trauma langsung terhadap kord spinal atau

kerusakan vaskuler, namun dengan bagian tulang dalam

konfigurasi yang lebih normal.

b. Tulang belakang sebelumnya sudah rusak akibat

penyakit sebelumnya seperti pada spondilosis servikal.

c. Fragmen tulang atau diskus terdorong kekanal spinal.

Pengelolaan kelompok ini tergantung derajat kerusakan

neurologis yang tampak pada saat pertama diperiksa.

Suatu transeksi neurologis lengkap, terbaik dirawat

konservatif. Pada cedera didaerah servikal, leher

diimmobilisasi dengan kolar atau sepit (kaliper) dan

pasien diberi metil prednisolon. Pemeriksaan lebih

lanjut seperti mielografi atau MRI harus dilakukan bila

pemeriksaan menunjukkan adanya potensi akan perbaikan

neurologis. Kesempatan perbaikan pada pasien dengan

defisit total disaat diperiksa adalah kecil dan semakin

jauh bila tidak ada perbaikan dalam 48 jam.

Pada cedera neurologis tak lengkap pasien juga

mulanya dirawat konservatif. Bila kerusakan didasari

adanya spondilosis servikal, traksi tengkorak digunakan

disamping pemberian metil prednisolon. Perkiraan atas

kerusakan dilakukan dan bila perbaikan terjadi dengan

memuaskan, tidak ada lagi tindakan lain yang diperlukan

kecuali bila spondilosis yang sudah ada sebelumnya

memerlukan tindakan bedah. Bila tidak ada perbaikan

atau ada perbaikan namun diikuti perburukan, dilakukan

mielografi untuk menampilkan daerah fraktura yang akan

didekompresi. Dengan kata lain, tindakan konservatif

memungkinkan kord spinal yang rusak memperlihatkan

potensinya untuk membaik dan tindakan bedah dilakukan

pada saat risiko pertambahan defisit neurologis sudah

dikurangi.

4. Cedera tulang tak stabil dengan defisit neurologis

Bila lesinya total, dilakukan reduksi yang diikuti

dengan immobilisasi seperti halnya pada seksi 2 dengan

tambahan perawatan paraplegik. Bila defisit neurologis

tak lengkap, reduksi dan diikuti immobilisasi sesuai

dengan jenis cederanya, dan bila diperlukan operasi,

dekompresi kanal spinal dilakukan pada saat yang sama.

Setelah setiap tindakan, kebijaksanaan konservativ

seperti pada seksi 3 dapat diteruskan karena fraktura

sekarang telah berubah dari tak stabil menjadi stabil.

CEDERA YANG MENYERTAI DAN KOMPLIKASI CEDERA KORD SPINAL

Efek dari cedera kord spinal akut mungkin mengaburkan

penilaian atas cedera lain dan mungkin juga merubah

respon terhadap terapi. 60% lebih pasien dengan cedera

kord spinal bersamaan dengan cedera major: kepala atau

otak, toraks, abdominal, atau vaskuler. Berat serta

jangkauan cedera penyerta yang berpotensi didapat dari

penilaian primer yang sangat teliti dan penilaian ulang

yang sistematik terhadap pasien setelah cedera kord

spinal. Dua penyebab kematian utama setelah cedera kord

spinal adalah aspirasi dan syok.

Pengelolaan Hemodinamik

Bila pasien hipotensif, cari sumber perdarahannya dan

atasi. Syok neurogenik mungkin tertutupi oleh syok

hemoragik.

Syok neurogenik disebabkan oleh hilangnya aliran

adrenergik dari sistema saraf simpatetik pada jantung

dan vaskulatur perifer setelah cedera diatas tingkat

T6. Terjadi hipotensi, bradikardia, dan hipotermi. Syok

neurogenik akan lebih mengganggu distribusi volume

intravaskuler dari pada menyebabkan hipovolemi sejati.

Atropin, dopamin, atau fenilefrin harus dipertimbangkan

untuk mengobati syok neurogenik, yang tak berreaksi

atas penggantian volume intravaskuler.

Syok spinal berbeda dari sindroma fisiologik syok

neurogenik. Syok spinal menunjukkan kehilangan lengkap

aktifitas motori, sensori dan refleks segmental dengan

flaksiditas dibawah tingkat cedera. Keadaan ini mungkin

berakhir setelah 6 minggu. Bila syok spinal bertahan

lebih dari 24 jam, prognosis untuk ambulasi betul-betul

tidak ada. Akhir dari syok spinal akan ditunjukkan oleh

kembalinya refleks spinal, namun fenomena ini belum

dimengerti.

Selama fase akut setelah cedera, beberapa jalur

intravena perifer ukuran besar (no. 16) dan pengamat

tekanan darah melalui jalur arteri dipasang, dan

resusitasi air dimulai. Bila pasiennya hipotensif dan

tak berreaksi atas cairan atau produk darah intravena,

kateterisasi pada arteri pulmoner merupakan pembantu

diagnostik untuk membimbing manipulasi terapeutik dan

untuk membedakan antara mekanisme hipovolemik, kardio-

genik dan neurogenik.

Pengelolaan Respiratori

Disfungsi respirasi bisa terjadi karena kegagalan

ventilatori akibat hilangnya fungsi neural dengan

paralisis muskulatur toraks. Mungkin juga karena atau

eksaserbasi dari beberapa faktor parenkhimal. Tindakan

terhadap kelainan patologi dan pencegahan terhadap

kelainan pulmoner sekunder atau didapat sangat penting.

Pembalikan tubuh berulang, perangsangan batuk,

pernafasan dalam, spirometri insentif, dan pernafasan

bertekanan positif yang sinambung dengan masker adalah

cara mempertahankan ekspansi paru-paru atau kapasitas

residual fungsional. Tekanan pernafasan positif yang

sinambung dengan masker merupakan cara optimal untuk

mempertahankan kapasitas residual fungsional pada

pasien yang tidak diintubasi. Cara ini digunakan dalam

usaha mencegah pamakaian ventilasi mekanik.

Pasien dengan saraf frenik intak (C3,4,5) dengan

trauma kord spinal servikal tengah atau toraks mungkin

semula tampil dengan gas darah normal dan memburuk atau

mengalami dekompensata secara akut dengan kegagalan

pernafasan. Hilangnya inervasi otot pernafasan aksesori

dan otot interkostal menimbulkan gangguan pengembangan

toraks dan menyebabkan atelektasis progresif. Dada

fungsinya menjadi inkompeten dan kurang compliant.

Gangguan fungsi ventilatori, sekret, dan infeksi

bronkhopulmoner, serta keadaan lain yang menyebabkan

eksaserbasi insufisiensi respirasi haruslah ditindak

efektif. Trakheostomi dilakukan bila pasien tak mungkin

dilepaskan dari ventilator. Umumnya bila ventilasi

diperlukan, lebih dari dua minggu.

Pengelolaan Nutrisional dan Gastrointestinal

Pasien dengan cedera kord spinal lengkap dan akut harus

mendapatkan pemeriksaan CT scan abdomen atau lavasi

peritoneal bila diduga ada perdarahan atau cedera

abdominal. Tanda dan gejala cedera abdominal mungkin

tidak ada pada cedera kord spinal akibat hilangnya

sensasi.

Cedera kord spinal akut, terutama pada daerah

toraks dan lumbar biasanya dengan ileus akibat efek

mekanik langsung atau hilangnya fungsi neural otonom.

Ileusnya harus ditindak dengan suction nasogastrik,

penggantian elektrolit, dan pengamatan status cairan.

Walau paralisis, pasien dengan cedera kord spinal

jelas dengan peningkatan tingkat metabolisme (50-100%

diatas normal) dan segera menjadi katabolik. Dianjurkan

terapi nutrisional dini. Pemberian dukungan nutrisi

dalam 24 jam sejak cedera menunjukkan pengurangan

infeksi, trombosis vena dalam, dan komplikasi katabolik.

Pemberian makanan oral atau alimentasi enteral

lebih disukai. Selang duodenal yang fleksibel dipasang

dengan bantuan fluoroskopi bila diperkirakan perlu

hiperalimentasi enteral elemental. Pasien dengan ileus

atau tidak mampu mentolerasi makanan enteral harus

segera mendapatkan hiperalimentasi parenteral total

(TPN). Pencegahan ulkus biasanya dengan antihistamin

(simetidin, ranitidin) atau antasid.

Pengosongan lambung yang terlambat sesudah cedera

mungkin menyebabkan pneumonia aspirasi bila pasien

mendapatkan gastric feeding. Penggunaan duodenal

feeding mencegah aspirasi. Penambahan zat warna akan

melacak adanya aspirasi atau refluks.

Cairan makanan hipertonik, penurunan absorpsi

intestinal, atau keduanya, dapat menyebabkan diare pada

pasien dengan makanan enteral. Keadaan ini diatasi

dengan mencoba berbagai konsentrasi formula atau dengan

menambahkan difenoksilat hidrokhlorida dengan atropin

sulfat (Lomotil) atau obat sejenis.

Kehilangan fungsi sfingter anal ditindak bila

ileus dan syok spinal berlalu. Pemberian supositoria

bisakodil (Dulcolax) dengan dilatasi manual rektal

memberikan rangsangan untuk kontraksi uniform untuk

pengosongan “volitional”.

Gangguan Koagulasi

Koagulopati intravaskuler diseminata jarang terjadi

pada cedera kord spinal terbatas, bila dibandingkan

dengan cedera kepala berat. Namun pasien paralisis

mempunyai risiko besar atas terjadinya trombosis vena

dalam dan emboli paru-paru.

Heparin dosis mini (5000 U subkutan, 2-3 kali

sehari), ranjang yang berosilasi, ekspansi volume,

stoking elastik setinggi paha, stoking pneumatik anti

emboli, antiplatelet serta anti koagulasi dianjurkan

untuk pencegahan, namun belum ada cara yang superior.

Pengelolaan Genitourinari

Setelah cedera, kandung kemih menjadi atonik secara

akut. Kateter Foley yang indwelling harus sejak semula

digunakan untuk mengamati output cairan dan untuk

mencegah distensi kandung kemih. Kateterisasi berkala

kandung kemih dimulai setelah keadaan medikal pasien

stabil dan dilakukan untuk mempertahankan volume

kandung kencing dibawah 400ml. Kateterisasi intermiten

dan bersih mengurangi risiko sistitis dan pielonefritis

pada pasien dengan kandung kemih neurogenik. Antibiotik

profilaktik tidak dianjurkan, namun infeksi spesifik

harus segera diobati.

Ulkus Dekubitus

Segera terbentuk pada pasien paralisis akibat tekanan

langsung pada dermal, kurangnya perfusi jaringan, dan

kurangnya mobilitas. Busa atau kulit kambing penyangga

tonjolan tulang, pemutaran tubuh berulang, perawatan

kulit yang baik, dan ranjang berosilasi atau udara,

dapat membantu pencegahan ulkus dekubitus. Pencegahan

komplikasi kulit adalah sangat penting.

Pengelolaan Pasien Paraplegik

Penderita cacad paraplegik terbukti banyak yang dapat

kembali aktif dan gembira sebagai anggota masyarakat,

berperanan dirumah, dilingkungan serta dipekerjaan.

Perawatan dikelompokkan kedalam:

1. Respirasi. Peran utama saraf frenik adalah pada

tingkat C4 dan cedera servikal tengah dapat berpengaruh

pada fungsi diafragma baik pada satu maupun kedua sisi.

Defisit yang ditimbulkannya bisa temporer atau menetap.

Pada tahap awal pasien mungkin memerlukan ventilasi dan

tube endotrakheal yang dipasang sebagai tindakan gawat

darurat harus diganti dengan trakheostomi sesegera

mungkin. Sebagai tambahan pada pernafasan artifisial

adalah kemungkinan aspirasi yang efisien terhadap

sekresi paru-paru dan mencegah terjadinya bronkho-

pneumonia. Perbaikan keadaan neurologis memungkinkan

pasien untuk dilepas dari ventilator untuk selanjutnya

menutup trakheostomi.

2. Kulit. Kulit yang anestetik pada pasien paraplegik

menyebabkan sakrum, trokhanter major dan tumit cepat

menjadi merah dan ulserasi bila perawatan terlantar.

Pikirkan bahwa semua bed sores dapat dicegah bila tidak

ada defek intrinsik pada kulit yang akan menjadi sumber

luka. Pasien harus dibalik setiap dua jam dan apapun

cara yang digunakan untuk mengimmobilisasi pasien pada

fraktura tak stabil, harus tetap efektif saat merubah

posisi.

3. Kandung kemih. Cedera akut kord spinal mengakibatkan

periode syok spinal yang berakhir dalam beberapa hari

hingga beberapa minggu, disaat mana aktifitas semua

refleks dibawah tingkat lesi akan menghilang. Kandung

kencing berekspansi tanpa disertai adanya nyeri dengan

tiadanya refleks untuk mengosongkannya hingga terjadi

inkontinensia overflow dan dribbling. Bila syok spinal

berlalu, aktifitas refleks pulih dan sebagian usaha

untuk mengosongkan kandung kemih dimulai. Bila kauda

ekuina mengalami transeksi, maka tidak ada harapan

pengosongan secara refleks karena muskulatur kandung

kemih terputus dari pusat refleks dikord spinal bawah.

Harapan diberikan pada sebagian aktifitas otot detrusor

intrinsik, digabung dengan kompresi manual yang akan

mengosongkan kandung kemih secara lengkap dan teratur.

Sasaran semua cara perawatan dini kandung kemih

pada pasien paraplegik adalah agar pasien dengan jalur

kencing yang steril mampu mengosongkan kandung kencing

secara sempurna pada selang waktu yang sesuai tanpa

adanya stasis atau retensi air kencing yang mungkin

akan menimbulkan hidronefrosis atau pielonefritis.

Ada dua cara selain yang dijelaskan diatas untuk

pengelolaan dini pada kandung kencing paraplegik:

a. Kateterisasi intermiten dilakukan dalam cara steril

menggunakan teknik aseptik (sering oleh dokter) tiga

kali sehari hingga refleks atau pengosongan manual yang

efektif dapat dicapai.

b. Kateter indwelling kecil dan non iritan dipasang dan

sistem tertutup penampungan kencing secara sinambung

atau berkala dilakukan hingga risiko infeksi asenden

dapat ditekan.

Tindakan bedah kemudian atas leher kandung kencing

serta sfingter eksternal mungkin diperlukan untuk

mendapatkan pengosongan yang efektif. Bila ternyata

tidak mungkin didapat dengan cara ini, mungkin perlu

untuk melakukan cara lain untuk mengalirkan dan

menampung air kencing seperti ureterostomi atau aliran

keileal.

4. Berak. Sasaran untuk mendapatkan pengosongan rektum

teratur dan terperkirakan tanpa inkontinensia atau

mendadak. Ini memerlukan tambahan diet dengan sejumlah

serat serta penggunaan laksatif, suppositori dan enema

reguler.

5. Anggota gerak. Penting bahwa anggota yang paralisa

harus secara teratur mendapatkan pergerakan pasif untuk

mencegah kekakuan sendi. Kontraktur yang disebabkan

perbedaan spastisitas kelompok otot berlawanan harus

dicegah dengan latihan sesuai, medikasi, akhirnya

pemisahan tendo tertentu.

6. Nutrisi umum. Perlu mempertahankan masukan berkalori

tinggi untuk mencoba dan menekan akibat dari keadaan

katabolik yang tak dapat dielakkan yang terjadi pada

pasien bersangkutan pada masa segera setelah cedera.

Rehabilitasi Pasien Paraplegik

Rehabilitasi dan mempersiapkan pasien untuk mandiri

harus dimulai segera setelah pengelolaan frakturanya

memungkinkan. Keberhasilan rehabilitasi ditentukan oleh

ambisi mental dan fisiknya ketingkat kenyataan tanpa

kehilangan rasa kepercayaan diri dan kehormatannya.

1. Rehabilitasi fisik

Meningkatkan penggunaan kelompok otot yang berfungsi:

a. Fisioterapi dan latihan peregangan untuk otot yang

masih aktif pada lengan atas dan batang tubuh.

b. Pembiasaan terhadap alat dan perangkat rumah tangga

hingga mereka dapat memanipulasinya dengan cara-cara

tertentu.

c. Perlengkapan splint dan kaliper.

d. Transplantasi tendon.

Perbaikan mobilitas:

a. Latihan dengan kaliper dan kruk untuk pasien cedera

tulang belakang bawah.

b. Latihan kursi roda untuk pasien dengan otot tulang

belakang dan tungkai tak berfungsi.

c. Kendaraan khusus untuk dijalan raya.

2. Rehabilitasi psikologis

Pertama dimulai agar pasien segera menerima ketidak-

mampuannya dan merancang kembali keinginan dan rencana.

Ancaman kerusakan atas kepercayaan diri dan harga diri

datang dari ketidakpastian finansial, sosial serta

seksual yang semuanya memerlukan semangat, hal-hal yang

menjamin dan bantuan.

3. Penerimaan dirumah

Pelebaran pintu, pengadaan ram dan bahkan perancangan

kembali rumah agar memudahkan pasien dengan kursi roda.

Perubahan paling sederhana adalah pada kamar mandi dan

dapur hingga menghilangkan ketergantunag pada orang

lain.

4. Latihan untuk pekerjaan

Pasien yang bekerjanya duduk mungkin hanya memerlukan

sedikit pengaturan. Yang bekerja dengan mobilitas yang

lebih tinggi atau kerja fisik harus dilatih dalam

keterampilan baru dan didaftarkan sebagai orang cacad

hingga dapat kembali kepekerjaan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: