SIRKULASI OKSIGEN

Prioritas ketiga adalah perbaikan sirkulasi agar memadai.

Syok’ adalah keadaan berkurangnya perfusi organ dan oksigenasi jaringan. Pada pasien

trauma keadaan ini paling sering disebabkan oleh hipovolemia.

Diagnosa syok didasarkan tanda-tanda klinis :

Hipotensi, takhikardia, takhipnea, hipothermi, pucat, ekstremitas dingin, melambatnya

pengisian kapiler (capillary refill) dan penurunan produksi urine. (lihat Appendix-3)

Jenis-jenis syok :

Syok hemoragik (hipovolemik): disebabkan kehilangan akut dari darah atau cairan

tubuh. Jumlah darah yang hilang akibat trauma sulit diukur dengan tepat bahkan pada

trauma tumpul sering diperkirakan terlalu rendah. Ingat bahwa :

Sejumlah besar darah dapat terkumpul dalam rongga perut dan pleura.

Perdarahan patah tulang paha (femur shaft) dapat mencapai 2 (dua) liter.

Perdarahan patah tulang panggul (pelvis) dapat melebihi 2 liter

Syok kardiogenik : disebabkan berkurangnya fungsi jantung, antara lain akibat :

Kontusioo miokard

Tamponade jantung

Pneumotoraks tension

Luka tembus jantung

Infark miokard

Penilaian tekanan vena jugularis sangat penting dan sebaiknya ECG dapat direkam.

Syok neurogenik : ditimbulkan oleh hilangnya tonus simpatis akibat cedera sumsum

tulang belakang (spinal cord). Gambaran klasik adalah hipotensi tanpa diserta

takhikardiaa atau vasokonstriksi.

Syok septik : Jarang ditemukan pada fase awal dari trauma, tetapi sering menjadi

penyebab kematian beberapa minggu sesudah trauma (melalui gagal organ ganda). Paling

sering dijumpai pada korban luka tembus abdomen dan luka bakar.

Hipovolemia adalah keadaan darurat mengancam jiwa

Yang harus dikenali dan diatasi secara agresif

8

Langkah-langkah resusitasi sirkulasi

Tujuan akhirnya adalah menormalkan kembali oksigenasi jaringan.

Karena penyebab gangguan ini adalah kehilangan darah maka resusitasi cairan merupakan

prioritas

1. Jalur intravena yang baik dan lancar harus segera dipasang. Gunakan kanula besar

(14 – 16 G). Dalam keadaan khusus mungkin perlu vena sectie

2. Cairan infus (NaCL 0,9%) harus dihangatkan sampai suhu tubuh karena hipotermia

dapat menyababkan gangguan pembekuan darah.

3. Hindari cairan yang mengandung glukose.

4. Ambil sampel darah secukupnya untuk pemeriksaan dan uji silang golongan darah.

Urine

Produksi urine menggambarkan normal atau tidaknya fungsi sirkulasi jumlah seharusnya

adalah > 0.5 ml/kg/jam. Jika pasien tidak sadar dengan syok lama sebaiknya dipasang

kateter urine.

Transfusi darah

Penyediaan darah donor mungkin sukar, disamping besarnya risiko ketidak sesuaian

golongan darah, hepatitis B dan C, HIV / AIDS. Risiko penularan penyakit juga ada

meski donornya adalah keluarga sendiri.

Transfusi harus dipertimbangkan jika sirkulasi pasien tidak stabil meskipun telah

mendapat cukup koloid / kristaloid. Jika golongan darah donor yang sesuai tidak tersedia,

dapat digunakan darah golongan O (sebaiknya pack red cel dan Rhesus negatif.

Transfusi harus diberikan jika Hb dibawah 7g / dl jika pasien masih terus berdarah.

Prioritas pertama : hentikan perdarahan

Cedera pada anggota gerak :

Torniket tidak berguna. Disamping itu torniket menyebabkan sindroma reperfusi dan

menambah berat kerusakan primer. Alternatif yang disebut “bebat tekan” itu sering

disalah mengerti. Perdarahan hebat karena luka tusuk dan luka amputasi dapat

dihentikan dengan pemasangan kasa padat subfascial ditambah tekanan manual pada

arteri disebelah proksimal ditambah bebat kompresif (tekan merata) diseluruh bagian

anggota gerak tersebut.

Kehilangan darah adalah penyebab utama dari syok yang diderita pasien trauma

9

Cedera dada

Sumber perdarahan dari dinding dada umumnya adalah arteri. Pemasangan chest tube

/ pipa drain harus sedini mungkin. Hal ini jika di tambah dengan penghisapan berkala,

ditambah analgesia yang efisien, memungkinkan paru berkembang kembali sekaligus

menyumbat sumber perdarahan. Untuk analgesia digunakan ketamin I.V.

Cedera abdomen

Damage control laparatomy harus segera dilakukan sedini mungkin bila resusitasi

cairan tidak dapat mempertahankan tekanan sistolik antara 80-90 mmHg. Pada waktu

DC laparatomy, dilakukan pemasangan kasa besar untuk menekan dan menyumbat

sumber perdarahan dari organ perut (abdominal packing). Insisi pada garis tengah

hendaknya sudah ditutup kembali dalam waktu 30 menit dengan menggunakan

penjepit (towel clamps). Tindakan resusitasi ini hendaknya dikerjakan dengan

anestesia ketamin oleh dokter yang terlatih (atau mungkin oleh perawat untuk rumah

sakit yang lebih kecil). Jelas bahwa teknik ini harus dipelajari lebih dahulu namun

jika dikerjakan cukup baik pasti akan menyelamatkan nyawa.

Prioritas kedua: Penggantian cairan, penghangatan, analgesia dengan ketamin.

Infus cairan pengganti harus dihangatkan karena proses pembekuan darah

berlangsung paling baik pada suuh 38,5 C. Hemostasis sukar berlangsung baik pada

suhu dibawah 35 C. Hipotermia pada pasien trauma sering terjadi jika evakuasi pra

rumah sakit berlangsung terlalu lama (bahkan juga di cuaca tropis). Pasien mudah

menjadi dingin tetapi sukar untuk dihangatkan kembali, karena itu pencegahan

hipotermia sangat penting. Cairan oral maupun intravena harus dipanaskan 40-42 C.

Cairan pada suku ruangan sama dengan pendinginan.

Resusitasi cairan hipotensif : Pada kasus-kasus dimana penghentian perdarahan tidak

definitive atau tidak meyakinkan volume diberikan dengan menjaga tekanan sistolik

antara 80 – 90 mmHg selama evakuasi.

Cairan koloid keluar, cairan elektrolit masuk ! Hasil penelitian terbaru dengan

kelompok kontrol menemukan sedikit efek negatif dari penggunaan koloid

dibandingkan elektrolit untuk resusitasi cairan.

Resusitasi cairan lewat mulut (per-oral) cukup aman dan efisien jika pasien masih

memiliki gag reflex dan tidak ada cedera perut. Cairan yang diminum harus rendah

gula dan garam. Cairan yang pekat akan menyebabkan penarikan osmotik dari

mukosa usus sehingga timbullah efek negatif. Diluted cereal porridges yang

menggunakan bahan dasar lokal/setempat sangat dianjurkan.

Analgesia untuk pasien trauma dapat menggunakan ketamin dosis berulang 0,2

mg/kg. Obat ini mempunyai efek inotropik positif dan tidak mengurangi gag reflex,

sehingga sesuai untuk evakuasi pasien trauma berat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: