TUR-P


st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h3 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:3; font-size:13.0pt; font-family:Arial; font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:71858199; mso-list-template-ids:-1094928414;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1 {mso-list-id:868882949; mso-list-template-ids:-1716645576;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1768382959; mso-list-template-ids:-1083129194;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l3 {mso-list-id:2092658982; mso-list-template-ids:939035820;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Transurethral resection of prostat (TURP)

TURP adalah sebuah operasi yang dimaksudkan menghilangkan bagian dari prostat yang menekan urethra. TURP adalah sebuah prosedure endoscopic dimana dapat dilihat secara langsung bagian yang akan di resected, dilakukan pada Benigna prostat hipertropi (BPH) atau dengan istilah lain benigna prostat Enlargement (BPE), Pada prosedur ini dimasukan alat melalui urethra.

Kenapa operasi ini perlu dilakukan pada BPH? BPH adalah kelanjar prostat yang mengalami pembesaran sehingga pembesaran ini dapat menyebabkan penekanan pada urethra, yang menyebabkan aliran urin dari bladder akan terganggu. bila di biarkan akan menyebabkan penyumbatan, yang pada akhirnya akan menybabkan hidronefrosis; resiko terjadi kegagalan ginjal tinggi.

Diindikasikan bahwa seseorang mengalami BPH adalah adanya gejala-gejala berikut di bawah ini:

  1. meningkatnya frekuensi buang air kecil
  2. kesulitan memulai buang air kecil
  3. aliran urin pelan
  4. berhenti sebentar di tengah aliran
  5. dribbling setelah urination
  6. tiba-tiba ada keinginan kuat untuk BAK
  7. perasaan tidak komplit (ada sisa urin di bladder) setelah BAK
  8. Nyeri atau burning selama BAK

pemeriksaan fisik dan beberapa investigation perlu dilakukan. diantaranya:

  1. DRE (digital rectal examination), pemeriksaan ini direkomendasaikan dilakukan setiap tahun pada laki-laki dengan usia > 50 tahun.
  2. PSA (prostat spesific antigen) test. PSA adalah sebuah protein yang di hasilkan oleh cell prostat. PSA diketahui meningkat pada cancer prostat, dan ada kecenderungan meningkat pada usia tua, sehingga kecenderungan pula pada usia tua untuk munculnya kelainan ini.
  3. Rectal ultrasound dan prostat biopsi. jika ada kecurigaan adanya tumor pada prostat, maka dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan ini. pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan melalui rectum direct wave sound pada prostat, dimana gambaran apakah ada tumor atau tidak dapat dilihat pada sebuah screen. Dokter juga dapat menggunakan ultrasoun image sebagai guide dalam biopsi.
  4. Urin flow study (Uroflowmetre). adalah sebuah pemeriksaan untuk mengukur seberapa cepat aliran urin.
  5. Cystoscopy. pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukan sebuah tube melalui urethra, alat ini dilengkapi dengan lensa, light sistem, sehingga memudahkan dokter dalam pemeriksaan.

Persiapan TURP:

  1. Bila seorang perokok maka harus berhenti merokok beberapa minggu sebelum operasi, untuk menghindari gangguan proses penyembuhan
  2. Bila menggunakan obat seperti aspirin dan ibuprofen maka harus berhenti paling tidak 2 minggu sebelum operasi; hal berhubungan dengan bahwa obat tersebut mempengaruhi pembekuan darah
  3. Harus diinformasikan tentang kondisi kesehatan; apakan punya medikal atau surgucal history, seperti hipertensi, diabetes, anemia, pernah mengalami operasi apa sebelumnya..,
  4. Harus di informasikan tentang obat dan suplemen yang di konsumsi; baik yang ada resepnya dari dokter atau non-resep
  5. Pemeriksaan darah routin (CBC, coagulation profile, urinalisis, Xray, CT abdomen)
  6. Puasa paling tidak 8 jam sebelum operasi dilakukan

TURP dilakukan di bawah general anastesia atau lumbal anastesia dengan sedation, sebuah citoscope dimasukan melalui urethra sampai ke bladder, bladder di isi dengan solution sehingga memudahkan surgeon melihat-memeriksa bagian dari prostat yang membesar, kemudian di masukan surgical loop melalui citoscope untuk meremove bagian yang membesar. dan katater akan dibiarkan sampai beberapa hari. kadang-kadang di pasang irrigation untuk menghindari pembentukan bekuan darah. Obseravasi kesadaran, vital sign, perdarahan, intake output, urination harus dilakukan setelah operasi.

Teacing yang perlu di berikan pada pasien  TURP dintaranya:

  1. Anjuran untuk melakukan Early mobilization setelah operasi
  2. Nyeri setelah operasi
  3. keberadaaan cateter setelah operasi
  4. Melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap dan kembali keaktivitas normal setelah 4-6 minggu
  5. Menghindari mengangakat benda berat dan aktivitas sexual setelah 3-4 minggu
  6. Menggunkan obat sesuai dengan resep dari dokter
  7. Follow up

Benigna Prostat Hiperplasi (BPH)

Pengertian
Benigna Prostat Hiperplasi (BPH) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika ( Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193 ).

Review Anatomi Fisiologi
Kelenjar prostat terletak tepat dibawah buli – buli dan mengitari uretra. Bagian bawah kelenjar prostat menempal pada diafragma urogenital atau sering disebut otot dasar panggul.
Kelenjar ini pada laki – laki dewasa kurang lebih sebesar buah kemiri, dengan panjang sekitar 3 cm, lebar 4 cm dan tebal kurang lebih 2,5 cm. Beratnya sekitar 20 gram.

Prostat terdiri dari jaringan kelenjar, jaringan stroma (penyangga ) dan kapsul. Cairan yang dihasilkan kelenjar prostat bersama cairan dari vesikula seminalis dan kelenjar cowper merupakan komponen terbesar dari seluruh cairan semen. Bahan – bahan yang terdapat dalam cairan semen sangat penting dalam menunjang fertilitas, memberikan lingkungan yang nyaman dan nutrisi bagi spermatozoa serta proteksi terhadap invasi mikroba.

Kelainan pada prostat yang dapat mengganggu proses reproduksi adalah keradangan ( prostatitis ). Kelainan yang lain seperti pertumbuhan yang abnormal ( tumor ) baik jinak maupun ganas tidak memegang peranan penting pada proses reproduksi tetapi lebih berperan pada terjadinya gangguan aliran urin. Kelainan yang disebut belakangan ini manifestasinya biasanya pada laki – laki usia lanjut ( FK UNAIR / RSUD dr. Soetomo : 19 ).

Patofisiologi
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan akan menghambat aliran urin. Keadaan ini dapat meningkatkan tekanan intravesikal. Sebagai kompensasi terhadap tahanan uretra prostatika, maka otot detrusor dari buli – buli berkontraksi lebih kuat untuk dapat memompa urin keluar. Kontraksi yang terus – menerus menyebabkan perubahan anatomi dari buli – buli berupa : hipertropi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan difertikel buli – buli.

Perubahan struktur pada buli – buli dirasakan klien sebagai keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract Symptom / LUTS (Basuki, 2000 : 76).

Puncak dari kegagalan kompensasi adalah ketidakmampuan otot detrusor memompa urine dan terjadi retensi urine. Retensi urin yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran fungsi ginjal ( Sunaryo, H, 1999 : 11 ).

Etiologi
Penyebab yang pasti dari terjadinya BPH sampai sekarang belum diketahui. Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: